Postingan

Menulis di Mana Saja, Mengamati Apa Saja

Gambar
Hola! Selamat apapun bagi kamu yang sedang membaca ini, semoga usahamu membuahkan hikmah untukmu. Dewasa ini, gadget berupa handphone rasanya menjadi kebutuhan primer setiap orang. Di mana ada orang, di tangannya ada handphone . Tidak dipungkiri, kehadirannya membuat jendela dunia serasa ada di genggaman kita. Bagi kalian pecinta keramaian yang sunyi, handphone menghadirkan dunia maya yang begitu luas. Seperti postingan sebelumnya: Menulis di Mana Saja, tapi di Mana Saja Tidak Selalu Menulis, ada cara lain mengikat ilmu, yaitu dengan memandangi orang lain. Pernahkah kalian benar-benar pergi mengunjungi tempat-tempat tertentu, seperti bioskop, taman, atau tempat berkerumunnya banyak orang, sendirian? Entah dengan tujuan menonton film, entah berkunjung, apa pun itu, tapi kalian benar-benar melakukannya sendiri? Bersiap tanpa persiapan yang berarti, berjalan dengan sangat lamban, duduk atau pun berdiri yang tanpa mengeluarkan banyak tenaga, kemudian memandangi orang-orang. Hany...

Menulis Di Mana Saja, Tapi Di Mana Saja Tidak Selalu Menulis

Hai, bloggers! Ya, begitulah sapaan pembaca Blog yang biasa dibuat oleh blogger-blogger seantero Indonesia, yang padahal belum tentu ada yang membacanya, hehe. Tapi, tidak apa. Paragraf iniyang akan dimulai dengan pertanyaan kenapa saya nge-blog lagi? Saya memang suka menulis, tapi kebanyakan hanya tentang rentetan kejadian yang menghinggapi saya di suatu lini waktu. Dan seringnya memutuskan untuk tidak diungkapkan kepada khalayak. Yap, seperti diary yang hanya disimpan kisah-kasihnya di kalender pribadi. Tapi, tidak untuk semua hal. Hal lainnya, sangat sering saya publish . Di mana lagi kalau bukan tempat cuitan yang cocok untuk menghidupkan diary online sejuta umat, Twitter! Berbeda dengan Blog, Twitter menyajikan tampilan cuitan dari orang-orang yang kita ikuti, baik berupa retweet -nya (cuitan yang kemudian dicuitkan kembali) maupun like -nya (cuitan yang muncul karena disukai oleh orang yang kita ikuti). Sesederhana menulis singkat, cukup sampai 280 karakter. Dengan memanfaat...

Kepahitan yang Manis

Ah... Aku melewatkan banyak hal yang seharusnya ku tulis. Mulai dari tegangnya detik-detik pengambilan keputusan, keresahan berbulan-bulan, ketidakpastian yang menghantui, keragu-raguan yang kian mengakar, kekesalan demi kekesalan yang bertumpuk, kesedihan yang tak terlihat ujungnya, hingga keseruan menanti pintu-pintu kehidupan berikutnya. Ya, itulah gambaran tahun 2018-2020 versiku. Yang penuh dengan kesesak-nafasanku menjalani hari demi harinya. Hingga kini, di Maret 2020, aku hanya menertawainya. Bukan karena lucu tentunya, melainkan tidak bukan karena tidak bisa ku apa-apakan lagi. Oh jangan tanya soal penyesalan, karena hariku dihantui itu tiap jamnya. Tapi silakan tanya, apa yang ku dapat dari semua itu? Tidak lebih dan tidak kurang adalah makna kehidupan yang tidak ku ketahui artinya. Tapi, kali ini, aku tidak ingin menulis bagian itu. Karena aku tau, bahwa tulisan ini tidak akan pernah selesai nantinya -butuh jawaban yang mungkin aku rasakan nanti atau mungkin tidak pern...

Resensi Buku Bidadari Bermata Bening

Gambar
                      Sumber: google.com Identitas Buku Judul Buku            : Bidadari Bermata Bening (Sebuah Novel Pembangun Jiwa) Pengarang             : Habiburrahman El Shirazy Penerbit                 : Republika Penerbit Cetakan Ke            : 2, Mei 2017 Jumlah Halaman : iv + 337 halaman Ukuran Buku        : 13,5 x 20,5 cm ISBN                      : 978-602-0822-64-8 Harga                    : Rp 65.000,- Resensi Buku Buku dengan warna cover yang menggambarkan wanita menjadi daya tarik tersendiri bagi sepasang mata yang melihatnya. “Bidadari Bermata Bening” menjadi tulisan judul yang terpampang besar di halaman paling depannya. Buku yang dik...

Resensi Buku Kun Anta

Gambar
Sumber: instagram.com/tokobukuhamdalah Identitas Buku Judul Buku     : Kun Anta Pengarang : @NegeriAkhirat Penerbit : Wahyu Qolbu Cetakan Ke    : 2, Jakarta 2016 Jumlah Halaman : xiv + 226 halaman Ukuran Buku : 13 x 19 cm ISBN          : 602-733-159-3 Harga         : Rp 45.000,- Resensi Buku Buku yang berjudul Kun Anta (Cantik dari hati Cantik jadi diri sendiri) merupakan buku kumpulan cerita asli ( True Stories ) mengenai kisah wanita muslimah dalam mengarungi zaman jahiliyahnya pada suatu masa. Buku ini dikarang oleh salah satu pengguna akun sosial media twitter @NegeriAkhirat yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Wahyu Qolbu dengan jumlah halaman xiv + 226 halaman. Buku yang ber-cover warna khas wanita ini mengutip kesan dari beberapa artis terkenal seperti Zee Zee Shahab (Aktris dan Presenter “Berita Islami Masa Kini”), Terry Putri (Ex-Presenter “One Stop Football”), dan Hanum Sals...

Waktu Itu

Gambar
2 Oktorber 2016 Banyak yang terjadi belakangan ini. Mulai dari… teman baru, tempat tinggal baru, sekolah baru, orang-orang baru, kakak tingkat baru, wajah baru, dan semua hal yang baru. Banyak yang dirasakan belakangan ini. Mulai dari… senang bersama, susah bersama, capek, pegal, lelah, nyeri, sedih, marah, kesal, dan semua perasaan yang sulit terucap. Banyak yang dialami belakangan ini. Mulai dari… Makan dengan 10 hitungan Minum  yang dibatasi waktu “Duduk siap, gerak!” “Berdiri!” “Tanpa suara!” “NIMB?” “Ada yang sakit?” Bernyanyi ketika menyambut kedatangan dan kepergian seseorang Menjadi penembus hujan Makan 4 sehat 5 sempurna di “alam bebas” Menjadi penikmat kerupuk Makan yang “langsung habis” kalau ke Lapangan Pancasila Minggir dong, minggir dong, minggir dong. Jangan dilirik-lirik nanti bisa tertarik. Minggir dong, minggir dong, minggir dong. Kapal selam tangkinya bocor, timbul tenggelam di perbatasan. Berguling 180 derajat. Korpei. “Ada yang belum dapa...

16 Agustus 2016

Gambar
         Pagi itu, ku susuri jalan menuju calon sekolah baruku. Sebuah institut pertanian terbesar di Indonesia yang berlokasi di Bogor. Bukan untuk mengirim formulir pendaftaran, melainkan untuk mengajukan surat pengunduran. Parah? Ya, begitulah. Commuter line  menjadi alat transportasi yang ku gunakan untuk mencapai tujuan. Perjalanan hampir tiga jam yang membuatku terus menatap orang-orang yang duduk di seberang bangkuku membuatku berpikir,  apa yang mereka cari? Ku susuri jalan setapak dengan lebar hampir 5 meter itu dengan menapakkan kakiku sendiri. Ya, sekolah impian termahal bagi pecinta alam terbesar di Indonesia, aku menghampirimu! Gedung rektor Andi Hakim Nasution menjadi tempat pelabuhan terakhirku mengantarkan Kartu Tanda Mahasiswa dan beberapa lembar perjanjian untuk tinggal di asrama.  As they told,  Uang Kuliah Tunggal yang sempat dibayarkan saat daftar ulang couldn’t be returned. 10 dikali 11 lembar 100ribu-ku –oh, orangtu...