Postingan

Awan Teduh

Gambar
Tak ada yang bisa kita lakukan, bila itu tentang perasaan kita. Saat senang, kau seolah terbang, lupa akan perihnya daratan luka. Saat sedih, kau seolah terbius, lupa akan sadarnya ceria. Kita terkadang tidak bisa membiarkan liar merasakan perasaan sendiri. Selayaknya robot yang kadang punya error , punya kesalahan teknis, lupa bagaimana cara kerja yang seharusnya, maka satu-satunya yang mampu mengembalikan keutuhan robot itu hanyalah... yang menciptakannya. Begitu pula halnya dengan hati. Satu-satunya yang bisa menjaga kita dari controlling what the feelings are mean , where these feelings come from , why that kind of situation happens due to that feellings , and how to react with these feelings ... adalah dengan menghubungi penciptanya. Dia Yang Maha Mengetahui.  Pernah mendengar kata-kata ini? Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati. Ya. Kurasa itulah maknanya. Teguhkanlah hatiku, Di atas agama-Mu. Semoga perasaan-perasaan yang tumbuh atas perasaan kita ataupun atas kehendak-Nya ...

Berlinang Kenangan

Gambar
Kenangan, hanya tinggal kenangan. Tak ada deskripsi yang bisa melebihkan makna dari sebuah kenangan. Ia diam di tempat. Tak bisa bergerak. Anehnya, dia tak lekang oleh waktu bagi beberapa orang. Aku menemukan ketidaksiapanku melepas beberapa kawan. Yang kuanggap dekat, walau mereka tak demikian. Aku... takut ditinggal.  Bisa melakukan banyak hal sendiri adalah sebuah kebiasaan normalku. Namun, merasa sendiri karena beberapa kawan pergi, tak pernah menjadi sebuah kenormalan bagiku. Rasa itu tetap menyekat perih di sanubari. Mulai berjarak, ruang dan waktu, bahkan hati turut terpaut jauh. Entah. Sudah yang ke-... tak kuhitung lagi, walau dengan 2 tangan sebenarnya cukup. Tapi rasanya tetap sama perihnya dengan kehilangan pertama kali. Sebuah rasa yang tak bisa disampaikan melalui kata, langsung kepada mereka. Dan... beberapa dari kehilangan tersebut berhasil membuat sendi-sendi di kepalaku berdenyut. Tak hanya teriris dalam dada, tapi juga berdentum di kepala. Orang bilang, aku terla...

Melukis Kembali

Gambar
 Aku ingin menulis lagi... Sajak perasaan gembiraku, puisi gundah gulanahku, Untaian amarah dalam benakku, Aku ingin menceritakanmu lagi... dalam tulisan. Tapi, senja datang mendahuluimu Ia lebih dulu berhasil membuat gembira, gundah, dan amarahku pergi Bersamaan dengan kepergiannya, Menyambut malam. Ya, mereka tidak jauh di belakang Namun aku sudah bergeliat dengan malam. Bukan, bukan karena malam membawaku pergi. Bukan juga karena senja tidak mengasyikkan. Akulah yang pergi meninggalkannya. Akulah yang berjalan di atas kakiku sendiri, Meninggalkan senja, Menuju malam. Foto hanyalah pemanis. Menandakan siang, sore, bahkan pagi sekalipun, walau ku tinggalkan, tidak berarti tidak mengasyikkan. P.s.: Ada sebuah naskah dalam pengerjaan yang sedang ku tulis, berjudul Refleksi. Namun, judul tersebut memiliki ekor: hasn't done yet . Mengisahkan satu tahun perjalanan, tapi uraiannya belum juga selesai, bahkan setengahnya pun. Ia masih tertinggal di bulan pertama-kedua. Hal itu membuatku t...

Di Seberang Kaca

Gambar
Hamparan hijau membentang, Semilir angin berhembus, Pohon menjulang, Bersama gunung dengan awan yang ditembus. Siapakah dia gerangan? Orang di seberang bangkuku.

Habis Sudah

Gambar
Setelah mengutarakan berbagai benak, Setelah melepas beberapa penat, Setelah mengguyur orang lain dengan kisah tak terungkap, Rasanya... lelah. Sangat melelahkan karena tenaga dan perasaan yang dikeluarkan habis untuk meresapi kalimat-kalimat yang diutarakan tadi.  Makin bertambah berat rasanya. Serasa seluruh energi habis menguap seketika. Efek dominonya memunculkan pertanyaan lain: siapakah kiranya yang merasa lega atas pengakuan mengejutkanku? Tidak ada. Aku rasa tidak ada seorangpun. Bahkan diri ini sendiri tidak merasa demikian. Habis sudah. Luruh sudah. Semua energi dan perasaan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal positif: menghasilkan produk pekerjaan berakhir dengan pekerjanya yang kelelahan. Tenagaku habis. Aku butuh udara segar. Dan pendengar yang sabar.

Menari dalam Kepala

Gambar
Terhitung sebulan terakhir, kemampuan berpikir ini akhirnya diuji kembali. Atas pernyataan-pernyataan yang menjadi bahasan terbuka dalam suatu forum. Seperti mengajak sel-sel ini menari kembali. Menelusuri rincian demi rincian pertemuan. Dengan banyak orang, banyak pemikiran. Isi kepala memang tidak bisa dibohongi. Karena cerminnya terlihat dari kata yang menjadi kalimat dalam ucapan. Suara. Ia mengalirkan berbagai proses yang sudah dicerna, hasil tarian di otak. Indah untuk dipandang. Untuk didengar. Untuk ikut diajak menari. Membawa nada baru pada sel-sel otak yang haus akan berpikir logis. Lebih dari sangat menyenangkan. Ini menenangkan. Bahwa tarian yang pernah dipelajari masih mengingat gerakannya dengan baik. Mengikuti irama sesuai ketukannya. Walau kadang menimbulkan gerak kaku.  "Oh iya, gimana kalau gitu, ya?" Kalimat yang paling bisa membuat sel-sel ini semakin aktif, semakin berteriak kegirangan mencoba mencari jawaban lain. Seperti menari, walau di tengah hujan.

Tanpa Bingkai

Gambar
Foto: sepucuk gambar yang dapat membawa ingatanmu terbang mengarungi waktu lampau.  Berdesir dada, teringat akan banyak hal dari sepotong gambar itu. Riuhnya suasana, sendunya lubuk hati, hingga riangnya tawa yang membuatmu lupa akan hal-hal di luar kejadian itu. Sekeping gambar yang diambil dalam hitungan detik. Seolah memberhentikan waktu untuk menangkap indahnya suasana. Ah... Aku sudah tidak berada di sana lagi. Tapi, Kenapa rasa itu masih terasa dekat?  Seolah... tinggal kau hadapkan kepalamu ke belakang, maka gambar-gambar foto itu terasa bergerak kembali berputar. Credit: Photos of Bimbelholics UKM berkedok keluarga. Kepengurusan 4 tahun dengan berbagai peran, bahkan setelah lulus kampus. Terima kasih kawan, atas kenangannya, atas kerja samanya, atas kebersamaannya, atas kerusuhannya, atas kebaikannya. Mulai dari rapat, hingga jalan-jalan rapat. Mulai dari sibuk, hingga... masih sibuk. Semoga menyenangkan masih jadi teman baikmu.