Postingan

Jendela Luar

Gambar
Bagian-bagian tertentu dari diri kita memang dinamis. Menandakan bagian-bagian lainnya merupakan ciri khas yang melekat. Seperti senja yang sudah disepakati terjadi di sore hari. Seperti embun yang memang sepakat hadirnya di pagi hari. Sama dengan bagian-bagianmu. Kecilnya suara hatimu karena tidak ingin mengganggu suara hati orang lain, tidak menjadikan hilangnya arti suaramu. Besarnya suara hati orang lain pun tidak lantas menjadikan gangguan atas kecilnya suaramu. Karena... Perihal besar dan kecil, ia adalah sebuah persepsi –sebuah sudut pandang. --- Ternyata, mendapat kabar tidak baik perihal seseorang, yang kau rasa dekat denganmu, dari orang lain memiliki kesedihan tersendiri. Hei, kemana saja kamu baru tahu? Sedih, rasanya. Tidak semua rasa yang kita rasakan dirasa sama dengan apa yang orang lain rasakan. :"(

Kereta Sore

Gambar
Kali ini, saya sampai pada lembar 3 November. Ingin sekali menumpahkan berbagai rasa bahagia dalam tulisan indah, memercik keharuan ketika dibaca kembali, menggelitik jiwa yang kadang terpingkal sendiri. Ada kalanya, ingin juga menguntai cerita sedih dalam tulisan, mengenang hikmah, membasuh keperihan, menyapu pandangan saat ini. Kenyataannya, semua tulisan-tulisan itu berakhir tanpa kata. Hanya terselip rasa yang begitu menukik menggelora dada. Tidak ada patah kalimat yang bisa diikutsertakan. Tidak ada serpihan alinea di tulisan. Aku terdiam, lalu berdebar. Semua itu memang hanya sementara. Di dunia ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi. Tidak ada pula kesedihan yang kekal. Yang ada hanya ingatan tentang bagainana rasa itu menggetarkan sanubari. Serta kawan yang mendapat beberapa penjelasan kisah hati. Ditulis saat penulis dalam perjalanan pulang magang hari kedua dari Stasiun Serpong ke Stasiun Pondok Ranji.

Kisah Hari Puncak

Gambar
There are 'bestfriends' who you can describe a lot, but there is 'someone' who you can't describe even with a single word.  Jakarta, 10.10.2020. P.s.: Terima kasih semua orang-orang baik!

Sepatu

Gambar
Kita adalah sepasang sepatu Selalu bersama tak bisa bersatu Kita mati bagai tak berjiwa Bergerak karena kaki manusia Aku sang sepatu kanan Kamu sang sepatu kiri Ku senang bila diajak berlari kencang Tapi aku takut kamu kelelahan Ku tak masalah bila terkena hujan Tapi aku takut kamu kedinginan Kita sadar ingin bersama Tapi tak bisa apa-apa Terasa lengkap bila kita berdua Terasa sedih bila kita di rak berbeda Di dekatmu kotak bagai nirwana Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya Ku senang bila diajak berlari kencang Tapi aku takut kamu kelelahan Ku tak masalah bila terkena hujan Tapi aku takut kamu kedinginan Kita sadar ingin bersama Tapi tak bisa apa-apa Kita sadar ingin bersama Tapi tak bisa apa-apa Terasa lengkap bila kita berdua Terasa sedih bila kita di rak berbeda Di dekatmu kotak bagai nirwana Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya Cinta memang banyak bentuknya Mungkin tak semua bisa bersatu Lirik lagu Sepatu oleh Tulus. Pantai Jimbaran, ...

Al-Mahabbah

Gambar
Angan-angan tentang dirimu ada di mataku Ingatan tentang dirimu ada di mulutku Tempat kembalimu ada di hatiku Tapi ke manakah engkau hilang dariku? Penggalan di atas adalah salah satu syair pada bagian penggunaan istilah cinta, kasih sayang, yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Sudah lama kami tak bersua. Kabar-kabar tipis memang sering ditanya. Tapi cerita serius tak pernah berjumpa. Aku lupa rasanya. Bagaimana ia mendesir dada. Bagaimana air terurai dari mata. Ingatan itu tertata. Tapi, mengapa tidak ada rasanya? Bukan, bukan tentang hilangnya rasa. Rupanya, ada banyak definisi cinta. Dari buku penggalan syair di atas, banyak kata terbentang. Memberi ruang pada jendela yang tidak berpalang. Atas makna kehidupan yang terus menjulang. Sepertinya... Ini rindu.

Meja Tengah Malam

Gambar
Hari itu menjadi saksi bahwa ialah pemegang hari terakhir, bukan hari akhir. Abang angkot yang datang setelah 15 menit kami nongkrong di depan Indomaret turut berperan dalam persaksian hari itu. Kelabunya awan yang saat itu menakut-nakuti kami karena tidak bawa payung juga menyaksikan kami. Bapak penjual sate, abang penjual kentang dan cimol, abang penjual es kelapa, dan beberapa abang-mpok lain yang berlalu lalang, turut jadi saksi kami. Untung saja, tidak dengan kehadiran abang tukang parkir Indomaret. Kebayang kalau kami ditatapi dengan mata penasaran karena kami tidak kunjung meninggalkan wilayah kekuasaannya --halaman parkir Indomaret. Orang-orang itu menjadi saksi bahwa kami meninggalkan Jalan Otista III pukul 8 malam lewat menuju suatu tempat. Setelah perjalanan tak sampai 10 menit, gang besar menyambut kami dengan kegelapannya. Lampu depan gangnya tidak habis pikir bahwa ternyata penerangannya hanya cukup menerangi orang yang berada di bawah lampu itu. Terlebih bagi yang me...

Terkurung Malam

Gambar
Siang dengan mentari terbenam. Masih dengan sisa hujan semalam. Tatkala seorang gadis duduk di sudut kolam. Tersinari wajahnya yang temaram. Penuh raut bermimik padam. Padahal tangannya mengepal geram. Hening. Helaan nafasnya pun tak terdengar. Hingga sebuah suara lantang meneriakinya, "Hei, kau yang duduk di sudut sana, siapa di sebelahmu?" === Hahahahahahaha, pasti ia kaget setengah mati bila ternyata ada 'sesuatu' di sebelahnya. Siapa pula yang akan masuk ke area kolam pukul 11 malam? Post script: Perkataan lantang di atas adalah salah satu cara kau menyamakan frekuensi keberadaan seseorang bila kau hanya menemukan raganya yang bersamamu. Kagetkan ia agar sejenak ia menyadari keberadaan raganya sedang berada di tempat yang sama denganmu.